DIKJUT GUNUNG HUTAN ANGKATAN GEMURUH ANGIN

Pendidikan lanjut Gunung Hutan XXII “Gemuruh Angin” bertempat di Kaki gunung lawu tepatnya di jobolarangan. Setelah serangkaian latihan fisik dan materi ruang yang dipersiapkan oleh kadiv GH dan operasional sebagai pemantapan skill terhadapa anggota baru MAYAPALA. Diikuti oleh 9 anggota baru dan 10 pendamping. Materi Dikjut meliputi pembuatan Bivak non alam dan alam, pembutan trap, teknik pencarian air dan memurnikan air, teknik pembuatan perapian, dan navigasi darat.

Keberangkatan.

Hari Kamis, 24 Maret 2016

Setelah melakukan breifing, pelepasan dari Sekertariat MAYAPALA dan melakukan doa bersama dilanjut menuju Jembatan Janti (semula dari stasiun Maguwoharjo) menggunakan TransJogja. Rencana menggunakan kereta api dari jogja ke solo diganti menggunakan Bus. Sekitar 2 Jam perjalanan dari Jogja sampailah di solo. Kemudian dilanjut naik mini bus yang semula sudah di booking dari awal langsung menuju Tlogo Dlingo kurang lebih 1.5-2 jam untuk sampai di Tlogo Dlingo kaki gunung Lawu. Pukul 21.08 dilanjut jalan kaki dari tlogo dlingo ke daerah yang dituju yaitu jobolarangan. Sesampainya dilokasi hutan cemara dilanjut pembuatan shelter untuk melakukan breifing kegiatan besok dilanjut istirahat.

Pelaksanaan

Hari Jumat, 25 Maret 2016

Hari pertama berisikan tentang pembuatan bivak non alam, menggunakan ponco mulai dari pemilihan lokasi, teknik penyambungan, teknik pembuatan  pasak dan pemasangan, teknik penyimpulan tali. Mengacu pada cara pembuatan bivak ponco dengan cepat dan yang terpenting dapat melindungi.  Setelah pembuatan bivak non alam kemudian dilanjut pembuatan bivak alam menggunakan material sekitar dari dedaunan, rumput gajah, ranting pohon dll.

Hari Sabtu, 26 Maret 2016

Hari kedua pengaplikasian materi pembuatan trap, teknik pencarian sekaligus pemurnian air, dan teknik pembuatan perapian.

Pengaplikasian pembuatan trap meliputi beberapa prinsip yaitu membunuh, mencekik, melenting dan mengurung. Selanjutnya teknik pencarian air dan pemurnian, pencarian air dimulai pagi hari ketika daun dan rumput-rumput mengalami kondensasi dengan menggunkan kain.

Dilanjut proses pemurnian air dengan memanfaatkan material sekitar yaitu dengan rumput, pasir, kerikil dan arang. Fungsi Rumut sebagai penyaring partikel kasar, pasir untuk menyaring partikel-partikel yang lebih halus, kerikil untuk mennyaring sekaligus sebagai aerosi oksigen, dan arang sebagai desinfektan menghilangkan rasa dan bau.

Pembuatan perapian lebih dikhusukan bagaimana cara pemilihan tempat, pemilihan kayu dan cara memelihara bara api. Metode dakota dengan membuat 2 lubang yang sejajar dengan jarak kurang lebih 15-20 cm, 1 sebagai tungku utama dan 1 lubang sebagai tungku penjaga bara diameter lebih kecil. Prisnsip kerja tungku utama berfungsi sebagai tempat pembuatan bara api kemudian tungku yang lebih kecil berfungsi sebagai pengatur aliran udara dan menjaga agar bara tetap hidup. Menjaga api dengan cara ditiup melalui lubang yang lebih kecil tadi.

Pengaplikasian bivak kalong, bivak kalong berfungsi disaat kondisi lingkungan tidak memungkinkan untuk membuat shelter, contoh saat berada dirawa-rawa, saat daratan terendam air. Prinsip kerja bivak kalong yaitu dengan pemilihan pohon yang akan digunakan kemudian membuat harnes dan diikatkan ke batang pohon yang kuat. Harnes berfungsi sebagai pengaman badan.

Perjalanan Pulang

Hari Minggu, 27 Maret 2016

Materi hari ke 3, Bangun jam 6.00 dilanjut pemanasan untuk melemaskan otot-otot, kemudian dilanjut materi hari terakhir yaitu navigasi darat. Navigasi darat adalah ilmu yang mempelajari cara seseorang menentukan suatu tempat dan memberikan bayangan medan, baik keadaan permukaan serta bentang alam dari bumi dengan bantuan minimal peta dan kompas (Rimpala, 1994, Rimpala 1997). Alat-alat yang digunakan yaitu kompas, peta topografi, materi navigasi darat meliputi intersection (menentukan titik awal perjalanan) dan resection (pembacaan tanda medan, arah kompas, menaksir jarak, orientasi medan). Setalah melakukan resection dan intersection dilanjut perjalanan  navigasi darat dilakukan dari flying camp sampai di kediaman Pak Sardy  sebagai tempat titik akhir navigasi. Sesampainya dikediaman Pak Sardy melakukan istirahat dan silaturahmi. Kemudaian dilanjut perjalanan pulang dari jam 10.00 WIB dan sampai di basecamp MAYAPALA  pukul 13.00 WIB.

gh1

gh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *